Tampilkan postingan dengan label Budidaya padi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budidaya padi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 25 Oktober 2018

Mengatasi hama wereng secara alami




Di indonesia padi adalah komoditi utama pertanian. Tanaman padi sendiri lebih mudah dibudidayakan dengan biaya yang relatif terjangkau. Selain perawatannya yang mudah, tanaman padi ini juga cocok untuk ditanam sepanjang tahun baik dimusim kemarau maupun musim penghujan.
 Indonesia pertama kali mencapai swasembada beras pada tahun 1984. Pencapaian swasembada beras tersebut terancam dengan merebaknya serangan hama wereng pada tahun 1985-1986. Hingga saat ini serangan hama wereng pada padi masih terus berlangsung dengan tingkatan strain yang berbeda.

Hama wereng telah mengalami resistensi bahkan cenderung mengalami mutasi Gen. Hal ini disebabkan aplikasi pestisida yang terlalu sering dan berlebih (over dosis). Lebih parahnya lagi kadangkala jenis dan merk pestisida yang digunakan pun selalu sama (tidak pernah diganti).
Saat serangan hama wereng menjadi fenomenal di Indonesia maka dimunculkanlah berbagai varietas tanaman padi yang tahan  wereng atau biasa disebut VUTW (Varietas Unggul Tahan Wereng).


HAMA WERENG



wereng adalah jenis serangga. Wereng sendiri memiliki beberapa jenis dngan karakteristik berbeda. Beberapa jenis wereng diantaranya adalah Wereng Coklat (nilaparvata lugens), Wereng Hijau (Nephotettix virescens), dan Wereng Loreng (Recilia dorsalis).

Hama wereng pertama kali dilaporkan sebagai hama pada tanaman padi di Indonesia tahun 1854 oleh Stal (Mochida et al. 1977). Hama wereng sebelumnya termasuk dalam hama sekunder. Berubahnya hama wereng menjadi hama penting karena adanya penyemprotan pestisida yang tidak tepat pada awal pertumbuhan tanaman, sehingga dapat membunuh musuh alami (Syam & Wurjandari 2003).

Serangga ini memiliki siklus hidup sekitar 3-4 minggu mulai dari telur hingga mati kembali. Wereng dewasa memiliki sayap yang membantu pergerakannya. Ia bisa menyebar dan berpindah sejauh ratusan kilometer. Wereng menyerang tanaman padi dengan cara menghisap cairan tanaman padi pada bagian batang maupun daun.

Meski demikian, hama wereng memiliki musuh alami yang menjadi pemangsanya. Berikut adalah daftar musuh alami wereng :

  • Laba-laba serigala (Pardosa pseudoannulata).
  • Laba-laba bermata jalang (Oxyopes javanus).
  • Laba-laba berahang empat (Tetragnatha maxillosa).
  • Kepik permukaan air (Microvellia douglasi).
  • Kepik mirid (Cyrtorhinus lividipennis).
  • Kumbang stacfilinea (Paederus fuscipes).
  • Kumbang koksinelid (Synharmonia octomaculata).
  • Kumbang tanah atau kumbang karabid (Ophionea nigrofasciata).
  • Belalang bertanduk panjang (Conocephalous longipennis).
  • Capung kecil atau kinjeng dom (Agriocnemis spp).


faktor-faktor yang menjadikan perkembangan populasi hama wereng adalah:

  1. Tersedianya padi sepanjang tahun.
  2. Jarak tanam yang rapat untuk varietas padi yang memiliki anakan banyak sehingga tercipta iklim mikro yang sesuai untuk perkembangan populasinya.
  3. Pemakaian varietas yang memiliki hasil yang tinggi namun rentan terhadap hama wereng.
  4. Pemberian pupuk N yang berlebihan.
  5. Kondisi suhu lingkungan 18-30ºC.
  6. Kelembaban relatif antara 70-85%.
  7. Penggunaan insektisida dengan tidak bijaksana yang dapat menyebabkan terbunuhnya musuh alami dan menimbulkan masalah resistensi serta resurjensi pada populasi hama wereng.



CARA MENGATASI HAMA WERENG
Cara membasmi hama wereng secara alami yaitu dengan memberikan nutrisi yang cukup pada tanaman padi. Dengan memberikan nutrisi yang cukup dapat dipastikan bahwa tanaman padi tidak akan terserang wereng.

Agar tanaman padi tidak kelebihan unsur hara makro & mikro dan selalu tercukupi kebutuhan nutrisi, untuk itu diperlukan makhluk hidup yang bisa mengontrol jumlah kebutuhan nutrisi yang diperlukan tanaman. Makhluk hidup tersebut adalah bakteri (mikroba).

Bakteri tanah mengontrol pasokan harian nutrisi pada kondisi dingin atau panas yang ekstrim atau jika tanah tersebut terendam air, bakteri melambat, dan memperlambat pelepasan nitrogen. Namun ketika mikroba tanah mulai bergerak lagi, gejala kecukupan nitrogen akan tampak.

Menambahkan banyak sejumlah bahan organik, atau kompos pada tanah saat sebelum tanam/saat pengolahan lahan (proses pembajakan) adalah bersifat penting, karena bahan organik atau kompos dapat menambah unsure hara makro & mikro dan membuka pori-pori tanah.

Selain itu penambahan bahan organik/kompos dapat mengurangi pemakaian pupuk kimia karena bahan organik atau kompos akan memberikan jumlah nitrogen yang dibutuhkan tanaman. Nitrogen yang terkandung dalam bahan organik dilepaskan secara perlahan-lahan untuk tanaman dalam jangka waktu yang panjang.

Bahan organik tersebut dapat berupa Bokashi/kompos/pupuk kandang/pupuk organik padat, dll. Unsur hara makro & mikro yang terkandung dalam bahan organik tersebut diberikan ke tanaman secara perlahan-lahan oleh bantuan bakteri.

Diperlukan bakteri tangguh dan pilihan untuk dapat memberikan nutrisi secara berkesinambungan ke tanaman.

PENYEMPROTAN PESTISIDA
Penyemprotan intsektisida kimia yang berlebihan tidak efektif untuk dapat membasmi hama wereng secara keseluruhan. Namun dapat mengakibatkan resistensi, resurgensi dan kematian dari musuh alami wereng tersebut.

Pengendalian hama wereng pada padi dengan penggunaan pestisida kimia hanya boleh dilakukan apabila jumlah wereng per rumpun sudah melebihi ambang ekonomi. Untuk hama wereng ambang ekonominya yaitu 2-5 ekor per rumpun (tergantung masing-masing daerah, bila endemik bisa lebih rendah lagi).

Apabila sudah melebihi ambang ekonomi tersebut, maka harus dilakukan penyemprotan. Contohnya dengan insektisida yang bertujuan untuk menekan populasi hama wereng pada padi.

Untuk itu gunakanlah pupuk kimia terutama pupuk dengan kandungan Nitrogen (N) secara bijak dan sesuai dosis anjuran selain itu selalu gunakan Pupuk organik cair GDM.

Jumat, 05 Oktober 2018

Mengenal fase-fase pemasakan bulir padi



Dalam rangka panen perlu diketahui fase-fase pemasakan bulir padi.

Proses pemasakan padi terdapat 4 stadium masak:.


  • Stadium masak susu


Tanda-tandanya adalah tanaman padi masih berwarna hijau tetapi malai-malainya  sudah  terkulai, ruas batang bawah kelihatan kuning, gabah bila dipijit dengan kuku keluar cairan seperti susu, stadium masak susu terjadi pada saat 10 hari setelah fase berbunga merata.


  •  Stadium masak kuning


Tanda-tandanya seluruh tanaman tampak kuning; dari semua bagian tanaman, hanya bulu-bulu sebelah atas yang masih hijau, isi gabah sudah keras, tetapi mudah    pecah dengan kuku; stadium masak kuning terjadi 7 hari setelah stadium masak susu.


  •  Stadium masak penuh


Tanda-tandanya buku-buku sebelah atas berwarna kuning sedang batang-batang  mulai kering; isi gabah tidak dapat/sukar dipecahkan. Aada varietas-varietas yang mudah rontok stadium ini belum terjadi kerontokan. Stadium masak penuh terjadi 7 hari setelah stadium masak kuning.


  • Stadium masak mati


Tanda-tandanya isi gabah keras dan kering. varietas yang mudah rontok pada stadium ini sudah mulai rontok. Stadium masak mati terjadi 6 hari setelah masak penuh. Saat panen untuk gabah konsumsi sebaiknya dilakukan pada stadium masak kuning sedang gabah untuk benih, dipanen pada stadia masak penuh.

Dan ini adalah tanda-tanda padi siap panen:


  • 95 % gabah sudah menguning dan daun bendera telah mengering
  • Umur optimal malai 30 – 35 hari terhitung sejak hari sesudah berbunga (HSB)
  • Kadar air berkisar 21 – 26 %
  • Kerontokan gabah sekitar 16 – 30 % (Cara mengukurnya dengan meremas malai dengan tangan).





Cara Panen

Cara panen padi tergantung kepada alat perontok yang digunakan.


  1. Ani-ani umumnya digunakan petani untuk memanen padi lokal yang tahan rontok dan tanaman padi berpostur tinggi dengan cara memotong pada tangkainya.
  2. Cara panen padi varietas unggul baru dengan sabit dapat dilakukan dengan cara potong atas, potong tengah atau potong bawah tergantung cara perontokannya. 
  3. Cara panen dengan potong bawah, umumnya dilakukan bila perontokannya dengan cara dibanting/digebot atau menggunakan pedal thresher. 
  4. Panen padi dengan cara potong atas atau potong tengah bila dilakukan perontokannya menggunakan mesin perontok.


Perontokan Padi

Perontokan padi merupakan tahapan pasca panen padi setelah pemotongan atau memanen. Tujuan tahapan ini adalah melepaskan bulir-bulir gabah dari malainya. Pada saat dilakukan perontokan gabah ada beberapa hal yang perlu dilakukan yakni:


  1. Pelaksanaan perontokan harus dilakukan sesegera mungkin setelah panen.
  2. Untuk menghindari banyaknya gabah yang tercecer sebaiknya digunakan alas,  untuk alas dapat dipakai plastic, anyaman bambu atau tikar.


Menurut Agus Andoko, 2002, setelah padi dipanen gabah harus segera dirontokkan malainya. Tempat perontokan dapat dilakukan di lahan atau di halaman rumah. Perontokan ini dapat dilakukan dengan tenaga manusia atau dengan alat mesin. Perontokan padi merupakan salah satu tahapan pasca panen yang memberikan kontribusi cukup berarti bagi kehilangan hasil dan mutu padi secara keseluruhan, untuk itu diperlukan suatu usaha mencari alternative perontokan yang tepat sehingga hasil perontokan padi menghasilkan gabah bermutu dan kehilangan hasil yang kecil.

Berdasarkan hasil penelitian BPS ternyata besarnya kehilangan hasil selama perontokan dipengaruhi oleh beberapa factor antara lain varietas padi, alat atau cara perontokan dan alas perontokan, tempat perontokan serta pelaku prontokan untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel sebagai berikut:

Kegiatan-kegiatan Tingkat lehilangan hasil
Injak-injak 3,99%
Pukul/geding 4,54%
banting 6,4-12,3%
banting dengan tirai 4,45-5,06%
Pedal tresher belum ada data
TH-6-quick 1 0,84%
TH-6-quick 2 1,54%
modifikasi TH-6-aceh 1| 0,34%
modifikasi TH-6-aceh 2| 0,64%



Kamis, 04 Oktober 2018

Cara menyemai padi dengan baik dan benar



Beberapa faktor yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman terletak pada persemaian yang di persiapkan. Terutama pada budidaya padi varietas yang unggul, tahan terhadap hama dan penyakit. Jika tanaman yang di tanam terserang penyakit biasanya di lakukan penyulaman, sangat di butuhkan guna untuk mencapai hasil yang optimal. Selain dengan cara menyemai ada juga petani padi yang langsung menaburkan biji atau benih padi kesawah. Namun cara tersebut tidak efektif dan banyak permasalahannya. Makanya jika anda ingin membudidayakan padi, sebaiknya anda melakukan semai padi untuk mendapatkan bibit yang baik dan hasil panen terbaik.


Mencampur tanah

Pupuk organik sebelum besek atau nampan diisi dengan tanah terlebih dahulu diiapisi daun pisang-1 yang sudah dilemaskan, kemudian diisi dengan tanah yang sudah dicampur pupuk organik sebanyak tiga per empatnya kemudian disiram dengan air sehingga tanah dalam besek menjadi lembab.

Jumlah benih

Per besek antara 300-3so bija kurang lebih satu sendok makan, setelah itu ditutup dengan tanah yang sudah dicampur pupuk organik(lapisan tanah penutup diupayakan tipis)  kemudian dibibit lagi.  Selanjutnya persemaian dapat disimpan dipekarangan.  Hari pertama dan ke dta persemaian ditutup agar tidak kepanasan atau dapat disimpan di tempat yang teduh,  jika disimpan dipekarangan diupayakan diletakan pada tempat yang aman dari gangguan ayam dan lain-lain.  Pemberian air dapat dilakukan setiap hari agar media tetap lembab dan tanaman tetap segar.



Proses tanam

Benih ditanami pada umur 7 sampai 10 hari setelah semai.  jumlah benih per lubangnya hanya satu dan diusahakan dangkal sekitar 1 cm,  dengan perakaran kondisi air saat tanam horizontal seperti huruf L, kondisi macak macak.  Dasar pemikiran tanam tunggal adalah ketika benih ditanam,  maka tidak akan timbul pesaingan satu sama lain dalam hal nutrisi,  oksigen dan sinar matahari.

Alasan benih ditanam dangkal adalah untuk menghindari agar kita tidak tertekuk ke atas,  sebab bila demikian benih memerlukan energi besar dalam memulai tumbuhnya,  akar baru akan tumbuh dari ujung tersebut dan jika ditanam tertalu dalara makan tanah akan menjadi penghambat untuk pembentukan anak.  jarak tanam dapat dipilih,  antara lain 27 x 27 cm,30×30 cm atau 40×40 cm.

Semakin lebar jarak tanam semakin mengingkatkan jumlah anakan produktif,  karena persaingan oksigen,  energi matahari dan nutrisi semakin berkurang,  sempit lebarnya jarak tanam dipengaruhi oleh tungikat subur dan tidaknya tanah.

Pemupukan

Pemupukan dalam metode SRI hanya dilakukan dengan pupuk organik yang berasal dari bahan organik seperti hijauan fjerami,  batang pisang dan hijauan lainnya:  kotoran hewan kambing sapi,  ayana,  kelinci dan kerbau dimana bahan-bahan tersebut teriebih dahulu dikomposkan).  Pemupukan dapat juga ditambahkan dengan pupuk cair organik yang dapat dibuat sendiri.  Pupuk cair organik dibuat melalui proses fermentati dan pengelolaan microorganismelokal(MOL)  dengan bahan dari tulang tulang ikan,  limbah pemotongan hewan,  buah-buahan us buah-buahan dan bahan lain-lain.  Proses iermentasi tersebut menggunakan air nira atau air kelapa dengan waktu yang diperlukan is hari.

Pengelolaan Air dan Penyiangan

Padi bukan tanaman air,  tetapi dalam pertumbuhannya membutuhkan air.  Pada prinsipnya pengelolaan air metoda SRI adalah pengaturan pemberian air pada lahan sedemikian rupa sehingga kapan lahan tersebut macak-macak,  kapan dilakukan penggenangan dan kapan dilakukan pengeringan.  Oleh karena itu proses pengelolaan air dan penyiangan dilakukan disesuiakan menurut umur padi sebagai berikut :

Pada umur sampai 8 hari setelah tanam (hst) keadaan air macak macak kemudian umur 9 sampai 10 hst digenang 2 sampai 3 cm.  setelah disiangitanaman dikeringkan sampai umur 18 hst.Pada umur 19 sampai 20 hst tanaman digenang, ini untuk memudahkan penyiangan ke II dan selanjutnya pengeringan penyiangan dilakukan dengan interval waktu yang sama,  sampai tanaman berbunga.  Pada saat tanaman berbunga tanaman diairi dan setelah padi masak susu di keringkan kembali sampai menjelang panen.  Dengan pengeringan maka pertumbuhan tinggi terbatasi, nitrogen pengisapan padi akan tertekan karena selanjutnya tangkai daun pagi akan besar dan tebal,  keras serta kuat yang memiliki daya tahan terhadap serangan hama penyakit dan penyimpanan padi akan lebih aktif.

Rabu, 03 Oktober 2018

Jenis-jenis bibit padi unggul



Bibit Padi hibrida

Varietas Padi Hibrida adalah varietas padi yang dirancang untuk sekali tanam. Kelebihan padi varietas hibrida adalah potensi hasil panen yang maksimal. Hasil panen dapat mencapai dua kali lipat dari padi lokal. Butiran padi yang dihasilkan lebih bagus, dengan kualitas nasi yang lebih pulen dan wangi.

Namun varietas hibrida sendiri memiliki kelemahan, yaitu kualitas hasilnya akan berkurang jauh apabila berasal dari tanaman turunannya. Artinya, padi harus berasal dari bibit original, karena apabila hasil panen kemudian ditanam ulang, hasil ini akan berbeda dengan bibit aslinya. Harga benih varietas hibrida ini termasuk yang termahal.

Padi Hibrida ini didesain untuk membuat petani memiliki rasa ketergantungan karena akan selalu membeli bibit padi ini. Oleh karena itu saya tidak merekomendasikan anda memilih jenis bibit seperti ini. Tetapi untuk pengetahuan saja anda boleh mengetahui jenis padi hibrida apa saja.

Intani 1 dan Intani 2, PP1, H1, Bernas Prima, Rokan, SL 8 dan SL 11 SHS, Segera Anak, SEMBADA B3, SEMBADA B5, SEMBADA  B8 DAN SEMBADA B9, Hipa4, Hipa 5 Ceva, Hipa 6 Jete, Hipa 7, Hipa 8, Hipa 9, Hipa 10, Hipa 11, Long Ping, Adirasa-1, Adirasa-64, Hibrindo R-1, Hibrindo R-2, Manis-4 dan 5, MIKI-1,2,3, SL 8 SHS, SL 11 HSS.
Bibit yang saya sebutkan di atas adalah salah satu bibit yang sangat unggul dan sangat cocok jika anda adalah petani besar dan hanya membutuhkan hasil yang melimpah tanpa harus pusing membeli bibit unggul.

Bibit Padi Unggul 

Bibit Padi unggul sangat banyak di Indonesia, karena penelitian untuk mencari bibit padi yang unggul selalu dilakukan dan senantiasa berkembang. Dengan bibit padi unggul maka kesuksesan memperoleh hasil padi bisa sama dengan bibit yang pertama kali dipakai selama kemurnian bibit itu dijaga.

Ciri ciri bibit unggul adalah bibitnya sudah diakui dengan SK menteri Pertanian dan diresmikan oleh negara. Karena Negara Indonesia juga sangat mendorong majunya pertanian di Indonesia.

Varietas padi unggul berada satu tingkat di bawah varietas hibrida. Varietas ini dapat ditanam berkali-kali dengan kualitas yang sama. Artinya, hasil panen dari varietas padi unggul masih bisa dijadikan benih.

Harga benih padi unggul pun tidak semahal benih padi hibrida. Untuk hasil produksi pun padi unggul dapat dikatakan baik, dapat mencapai 8-10 ton per hektar.

Berikut ini adalah contoh varietas padi bibit unggul yang sudah terkenal di Indonesia
Ciherang, IR-64, Mekongga, Cimelati, Cibogo, Cisadane, Situ Patenggang, Cigeulis, Ciliwung, Membramo, Sintanur, Jati luhur, Fatmawati, Situbagendit. Inpara, Cilosari, Diah Suci, Bestari, Inpago dan lain sebagainya.

Bibit Padi Lokal

Bibit padi lokal adalah bibit yang khusus berada di daerah tertentu. Varietas semacam ini hanya cocok ditanam di daerah tertentu saja, karena membutuhkan spesifikasi khusus untuk tumbuh dan memproduksi padi. Padi lokal biasanya menghasilkan produksi sekitar 7-8 ton per hektar. Rasa beras dari padi lokal juga kurang enak.

 Berikut ini adalah contoh bibit padi lokal.

bibit padi keb, bibit padi dharma ayu,bibit padi pemuda idaman,  (Indramayu), bibit padi  Gropak, bibit padi Ketan tawon, bibit padiGundelan ( Malang), bibit padiMerong ( pasuruan ), Simenep , Srimulih, Andel Jaran, Ketan Lusi, Ekor Kuda, hingga Gropak ( Kulon Progo-Jogja), Angkong, Bengawan, Engseng, bibit padi Melati, Markoti, Longong, Rejung Kuning, Umbul-umbul, Tunjung, Rijal, Sri Kuning, Untup, Tumpang Karyo, Rangka Madu, Sawah Kelai, Tembaga, Tjina, dan untuk daerah Banyumas ada Bibit padi gandamana, Bibit padi hitam, bibit padi sari wangi, bibit padi mentik wangi, bibit padi  sri wulan

Cara memilih benih yang baik dan benar



Setiap petani berharap hasil dari produksinya mendapatkan hasil yang memuaskan. Salah satu usaha untuk menghasilkan tanaman padi yang berkualitas adalah pemilihan benih padi yang berkualitas pula.
Benih yang unggul sangat berpengaruh pada hasil akhir suatu komoditas. Dalam memilih benih padi ada dua kriteria penting yaitu:
- mengetahui vigor (kekuatan) padi
- mengetahui viabilitas (kemungkinan dapat hidup) dari benih yang akan kita tanam.



Kita sering menjumpai petani yang melakukan uji kualitas benih padi dengan cara merendamnya di air. Indikator untuk memfilter benih yang unggul adalah dengan mengambil benih yang tenggelam, serta membuang benih yang mengambang (hampa). Sebenarnya cara seperti itu tidah seutuhnya salah, namun cara tersebut kurang optimal.

kenyataanya ada sebagian petani yang belum mengetahui cara terbaik dalam memperlakukan benih. Salah satu informasi pertanian yang penting dalam meningkatkan produksi padi yaitu dengan menggunakan indikator telur dan garam.


Saat ini ada cara yang bisa dipilih oleh petani dalam memperoleh benih unggul terbaik yaitu dengan cara memilih benih unggul padi bernas menggunakan indikator telur dan garam, cara ini bertujuan untuk memisahkan benih yang bernas dari benih yang jelek. Caranya sangatlah mudah yaitu dengan hanya menyediakan air, garam, telur, wadah (ember) dan benih beras, berikut merupakan cara / tahapan perlakuannya:



  • Siapkan wadah. (Wadah yang di gunakan boleh ember atau wadah yang akan diisi air, garam, telur dan benih padi yang siap diseleksi)
  • Masukkan air kedalam wadah. (Tes awal masukkan sebutir telur ke air dan telur akan tenggelam kedasar air, ini terjadi karena berat jenis telur lebih besar dari berat jenis air)
  • Masukkan garam ke dalam air (Ini bertujuan agar berat jenis air garam menjadi meningkat). 
  • Masukkan garam disertai dengan diaduk-aduk biar lebih cepat larut, dan tambahkan garam hingga telur bila dimasukkan menjadi terapung kepermukaan air (umumnya telur mengapung pada perbandingan 20 gram garam setiap 1 liter air)
  • Keluarkan telur yang sudah dalam keadaan mengapung
  • Masukkan benih kedalam larutan air garam. Benih yang bernas akan tenggelam, benih yang hampa dan retak akan mengapung.
  • Buang benih yang mengapung.Pilih benih yang tenggelam sempurna.Cuci bersih dan tiriskan benih yang tenggelam tadi.



Bila sudah melakukan cara seperti diatas, maka diperolehlah benih benas yang bermutu dan berkualitas yang siap untuk perlakuan berikutnya dalam proses menyiapkan benih bernas